Kutipan dari Edward de Bono (1)

Asyik juga perlahan-lahan memahami Edward de Bono. Sambil mengingatnya saya akan mengutip hal-hal yang menarik. Semoga terbersit ide saat menuliskannya.

Di Australia, ada seorang anak laki-laki berumur 5 tahun bernama Johny. Oleh temannya, ia disuruh memilih antara uang logam satu dolar dan uang logam dua dolar. Uang logam satu dolar lebih besar dari yang dua dolar. Johny memilih yang lebih besar. Temannya tertawa tergelak-gelak melihat kebodohan Johny. Kapan pun mereka ingin membodohinya, mereka akan menawarkan hal yang sama. Ia tidak pernah belajar. Ia selalu memilih uang logam yang lebih besar.
Suatu hari, seorang dewasa melihat hal ini dan merasa kasihan terhadap Johny. Ia memanggil Johny dan berkata bahwa uang logam yang kecil, meskipun lebih kecil, namun bernilai dua kali lipat uang logam yang lebih besar.
Johny tersenyum dan berterima kasih dengan sopan dan kemudian berkata: “Saya tahu hal itu. Tetapi berapa kali lagi mereka akan memberiku tawaran uang logam jika sejak awal aku memilih yang dua dolar?” Hal ini adalah mengenai persepsi. Jika Anda melihatnya sebagai kejadian tunggal, Anda akan memilih yang dua dolar. Jika Anda mengenal teman-teman Anda, seperti yang dilakukan Johny, Anda akan tahu bahwa mereka akan terus menawari Anda uang logam dan Anda akan mendapat banyak uang dolar. Persepsi adalah kuncinya.
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Syukur Berlanjut (2)

Saat nama-nama berikut dikirimkan kepada saya, senyum merekah mengantar ingatan pada tahun 2004 kemudian menyelusuri perjalanan ke tahun ini.  Siti, Roni, Rismawati, Ajid, Muslihin, Jujun, Eka, Ilyas, Dadan. Mereka angkatan ke 1 dan ke 2 SMP Darul Hikmah. Mereka kini guru SMP Darul Hikmah.

Mereka bukan guru sembarangan. Perjalanan ibu Eka heroik. Guru ini sewaktu SMP kelas 3 sudah menikah. Saya masih merasakan gelegak kegembiraan saat warga di Cieceng meminta saya untuk turut mengelola PAUD. PAUD identik dengan keterlibatan ibu-ibu dalam isu pendidikan. Lengkap sudah (setelah sebelumnya para bapak dan beberapa pemuda di SMP). Sejak itu pendidikan merangkak menjadi sepenuhnya isu masyarakat. Dan, saya terkejut, ibu Eka yang bertanggung jawab menjalankannya.

Ibu Eka tidak ada di foto ini. Teman-temannya ada. Mereka sedang mengikuti pelatihan yang dilakukan Walgri Aksara di Cipatujah, kabupaten Tasikmalaya. Bukan cuma pelatihan, namun para pemuda ini yang siap mendampingi sekolah Puncak Jaya, Ciheras-Cipatujah, dalam statusnya sebagai sekolah yang dipayungi sekolah Darul Hikmah.

Sekolah Payung adalah sebuah sekolah yang meberikan dukungan legalitas terhadap sekolah yang tidak memiliki legalitas. SD-SMP Puncak Jaya belum mungkin menyelenggarakan pendidikan formal-legal: tidak ada guru lulusan S1, tidak ada bangunan, siswanya sangat sedikit. Maka semua legalitas sekolah ini merujuk ke sekolah Darul Hikmah. Mereka belajar di tempat yang berjarak lebih dari 100 KM dari sekolah yang di mana mereka tercatat sebagai siswa. Anak-anak kelas 6 Puncak Jaya, saat Ujian Negara (UN), akan bergabung dengan anak-anak kelas 6 SD Darul Hikmah. Sekolah Payung adalah impian saya. Anak Muda itu yang mewujudkannya dalam riang gembira. Huh! Bangganya.

Posted in Walagri Aksara | Leave a comment

Tidak Masuk Tidak Keluar: Semua Berjasa (1)

Hampir 4 tahun dari keberadaan kami, kami tidak bernama. Hanya saja 4 tahun tersebut identik dengan guru-guru SD Hikmah Teladan. Setiap libur sekolah kami masuk ke pelosok berbagi dengan masyarakat.

Daerah pertama yang dikunjungi teman-teman adalah Pasawahan, kecamatan Banjarsari, kabupaten Ciamis. Kami bersama masyarakat dan Serikat Petani Pasundan menyiapkan pendirian SMP Plus Pasawahan. Kegiatan kami dilakukan di madrasah ibtidaiyah karena memang belum ada bangunan untuk peruntukan SMP. Selanjutnya, proses belajar dilangsungkan di ruang belakang samping dapur salah satu tokoh masyarakat.

Saya tidak tahu apa persisnya plus dari SMP Plus Pasawahan. Bahwa itu sekolah yang didirikan masyarakat, gratis, guru-gurunya orang-orang gerakan, siswanya semua anak tani, sudah pasti bisa jadi plusnya.

Awal petualangan ini secara keseluruhan berkesan. Colt Bak yang mengangkut kami terjungkir sehingga membuat ibu-ibu memilih berjalan berkilo-kilo. Di antara yang memilih berjalan itu istri saya dan kedua anak kami.

Saya, sekalipun salah kaprah, sangat pede menyampaikan materi tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi yang memang baru saya pelajari dengan baik dari teman di Pusat Kurikulum.

Beberapa nama yang bergabung dalam rombongan yang masih saya ingat: 1. Lia Nur Amalia yang sampai saat ini masih aktif sekalipun sudah sangat jarang; 2. Eva Sopia. Sudah tidak aktif di Walagri Aksara sejak dipersunting aktivis Serikat Petani Pasundan yang biasa menemani kami sebelum berganti dengan koordinator yang sekarang; 3. Asep yang sekalipun sudah menjadi PNS di SMKN Cimahi masih aktif sampai berdirinya LSM Walagri Aksara; 4) Wah yang lainnya lupa. Jadi saya tambahkan saja istri dan kedua anak saya.

Saat ini boleh dikata hanya Lia Nur Amalia yang masih bertahan dari rombongan yang pertama-tama ke Pasawahan. Kalau teman-teman Serikat Petani Pasundan yang memanfaatkan pikiran dan tenaga kami saat itu masih banyak yang aktif sampai saat ini. Ada pak Boy sebagai senior. Beliau suhu dan tentu saja dituakan. Di foto yang baru diambil pak Boy bersama salah satu murid angkatan awal yang kini menjadi guru di SMP Plus Pasawan (memakai baju kuning). Yang lainnya ada Linda, Saeful (kepala sekolah SMK Pertanian Pasawahan), Beno  (kepala sekolah SMP Plus Pasawahan) dan pak Ahmad (yang merupakan warga setempat).

Yang datang atau pergi semua berjasa. SMP Plus Pasawahan sudah meluluskan dan langsung ditampung di SMK Pertanian Pasawahan. Kami pun masih berhubungan dengan baik sampai saat ini.

Posted in Walagri Aksara | Leave a comment

Syukur yang Berlanjut (1)

Berikut ini nama-nama peserta pelatihan “Sekolah Guru Pemberdaya Masyarakat” dari Cieceng: Egi, Siti, Imat, Roni, Rismawati, Ajid, Muslihin, Jujun, Eka, Ilyas, Dadan, Ade I’ah.

Egi dan Ade I’ah merupakan 2 guru muda lulusan SMA yang mengajar SD Darul Hikmah pada saat kami melakukan pelatihan guru untuk pertama kali di Cieceng, Cikatomas, kabupaten Tasikmalaya pada tahun 2004. Pak Egi pernah menghilang sekitar 4 tahun dari murid-murid yang menghormatinya untuk bekerja di kota. Kebutuhan keluarga menuntutnya demikian. Idealisme bagi guru-guru yang tidak bergaji memang akan terus berbenturan dengan permasalahan ekonomi. Sudah hampir 2 tahun belakangan, setiap kunjungan ke Sekolah Darul Hikmah, saya senang selalu mendengar kembali suara kritisnya. Kami kembali mengandalkannya.

Ade I’ah dikenali oleh kami karena hidangan sambal ‘goang’nya. Ketika itu, 2 anak saya dan guru-guru bermain ke air terjun. Jarak dari sekolah sangat jauh, tapi dekat kalau dari rumah bu Ade. Beliau tinggal di dusun yang diberi nama air terjun itu: Curug Dendeng. Entah bagaimana asal-usulnya, pokoknya kolam bu Ade hari itu ‘dibedahkeun’ dan yang pulang dari curug langsung dipersilahkan menyantap gorang ikan yang segar. Sambal ‘goang’ itulah, dengan alasan enaknya, membuat kami tidak ingat malu saat makan sulit dihentikan. Berbeda dengan pak Egi, “4 tahun” dimanfaatkan bu Ade mengikuti kuliah di Universitas Terbuka. Pak Egi pulang membawa harapan yang tidak bisa dipenuhinya, bu Ade pulang membawa gelar. Bu Ade membuat sejarah bagi Darul Hikmah: guru lulusan universitas.

 

Posted in Walagri Aksara | Leave a comment

Proposal “Sekolah Guru Pemberdayaan Masyarakat”

[pROPOSAL “SEKOLAH GURU PEMBERDAYAAN MASYARAKAT”]


Pendahuluan

Guru-guru di daerah konflik yang menjadi dampingan Walagri Aksara secara keseluruhan adalah petani, aktif dalam Organisasi Tani Lokal dan sebagian dari mereka merupakan tokoh masyarakat.Realita ini menyebabkan perubahan yang terjadi pada guru mendorong perubahan di masyarakat.Walagri Aksara akhirnya tidak dapat mengelak terlibat dengan perkara masyarakat.

Dapat disebut ini periode kedua dalam kerjasama antara Walagri Aksara dengan daerah dampingan. Kami dengan jelas menapaki tantangan untuk membawa sekolah yang kuat menjadi sekolah yang merubah masyarakat.

Tujuan

1.Mengukuhkan sekolah sebagai tempat berkumpulnya orang-orang yang memiliki kemampuan berpikir yang baik.

2.Menfasiltasi sekolah menjadi pusat penelitian bagi lingkungan sosialnya.

3.Mengukuhkan sekolah sebagai pemandu perubahan masyarakat.

 

Kegiatan Tahap I

Sekolah yang baik akan mendorong kesenangan pada berpikir. Guru-guru, kemudian anak-anak, sepantasnya mandiri dalam berkegiatan dengan pikir. Namun kenyataannya sekolah hanya menumpuk informasi minus kecerdasan mengelolanya. Berbeda dengan kemandirian ekonomi dan politik, kemandirian berpikir tidak dipersiapkan.  Kegiatan tahap I diharapkan menjadijalanuntuk memulainya.

  1. Guru Bisa Berpikir. Pelatihan awal ini dimulai denganbelajar berpikirmelalui kajian terhadap “Edward de Bono”.
  2. Guru yang Berpikir. Dengan menggunakan buku John Holt “Mengapa Siswa Gagalpara guru dikenalkan pada sosok guru yang secara spesial dan mendalam menghayati peran dan anak didiknya. Guru-guru dapat berjumpa pengalaman yang mengejutkan tentang bagaimana menggeluti profesi guru.
  3. Guru-Pemikir. Guru Pemikir adalah guru-guru yang menerjang masalah, membuka tantangan, dan bertindak menyisir penyelesaian. Buku “Indonesia Mengajarakan dibedah untuk mengungkap betapa idealisme plus kompetensi (sebagai pribadi) menawarkan warna-warni kesuksesan dalam perjalanan bersama melakukan perubahan.

Saat bersamaan dengan kegiatan untuk guru tersebut, siswa kelas 6 dan kelas 9 mengikuti berbagai sesi pelatihan terkait berbagai metode belajar, uji coba Ujian Negara dan pembahasannya. Siswa SMK Pertanian mengikuti pelatihan tentang pembenihan dan penyakit tanaman dengan penekanan pada pembentukan model budaya penelitian di lingkungan SMK, sekaligus mencanangkan program menjadikan SMK sebagai penyedia benih bagi masyarakat.

Kegiatan dengan masyarakat adalah pengajian umum di beberapa dusun, menonton filem pendidikan (semacam layar tancap), dan pelatihan guru—guru PAUD yang biasanya dilakukan di antara ibu-ibu dari anak-anak peserta PAUD.

Waktu dan Tempat

17-21 Desember 2011 di SD, SMP, SMK Darul Hikmah, Cieceng, kecamatan Cikatomas, kabupaten Tasikmalaya dan daerah-daerah sekitar.

Peserta

Peserta pelatihan untuk guru:

  • SD, SMP dan SMK Darul Hikmah, Cikatomas, kabupaten Tasikmalaya: Egi, Siti, Imat, Roni, Rismawati, Ajid, Muslihin, Jujun, Eka, Ilyas, Dadan, Ade I’ah
  • SD, SMP Puncak Jaya, Cipatujah, kabupaten Tasikmalaya: Harun, Sari, Udeng
  • SMK Pertanian Cigalontang, kabupaten Tasikmalaya: Agus, Nuasiah, Yani, Retno, Cepi, Euis
  • SMP dan SMK Pertanian, Pasawahan, kabupaten Ciamis: Saeful, Romdon

Peserta pelatihan dari siswa adalah anak-anak kelas 6 SD Darul Hikmah dan SD Puncak Jaya, kelas 9 SMP Pasawahan dan SMP Darul Hikmah, siswa SMK Pertanian Darul Hikmah dan SMK Pertanian Cigalontang.


Tim Instruktur

Nama

Lembaga/Profesi

MH. Aripin Ali

Usep Saeful Husna

Munajat, SP.

Rian Angkasa Pinem

Diar Ginanjar Andiraharja

Erik Hillaludin, SAg.

Herni Juharno S.Pd.

Yayan Khaerul Anwar, M.HI

Yukie Septiani S.Pd

LSM Walagri Aksara

Ketua Unit Pendidikan SPP

Praktisi pertanian dan tanaman obat

Kepsek SD, SMP, SMA Semesta Hati

Guru SD, SMP, SMA Semesta Hati

Guru SD Hikmah Teladan

Guru SD Hikmah Teladan

Dosen UIN Sunan Gunung Djati

Guru SD Hikmah Teladan

Susunan Kepanitian

Penasihat                                      :  1. Ali Abdullah

                                                          2. M. Endar Suhendar

Ketua                                             : MH. Aripin Ali

Wakil Ketua                                  : Usep Saeful Husna

Koordinator Materi Akademis   : Diar Ginanjar Andi Raharja, S.Pd

Koordinator Materi Keagamaan: Anwar Sanusi

Koordinator Materi Pertanian   : Munjat, S.P

Koordinator Lapangan                : Eris

Bendahara                                     : Lia Nur Amalia S.S

Konsumsi                                       : warga setempat

Sie. Peralatan dan Dokumentasi: Rian Angkasa Pinem

Anggaran

Biaya Pengeluaran

Jumlah Instruktur 10 orang

  • Transportasi dari Cimahi-Tasikmalaya                      10 orang x Rp40.000 = Rp400.000
  • Transportasi dari kota TasikmalayaCieceng         10 orang x Rp30.000 = Rp300.000
  • Konsumsi perjalanan                                                      10 orang x 4 x Rp15.000 = Rp600.000
  • Konsumsi di lokasi                                                          10 orang x 4 hari x 2 x Rp5.000 = Rp400.000

Peserta guru berjumlah 21 orang

  • Konsumsi                                                                          21 orang x 4 hari x 2 x Rp5.000 = Rp840.000
  • Buku Revolusi Berpikir                                                  21 orang x Rp63.500 = Rp1.333.500
  • Buku Mengapa Siswa Gagal                                          21 orang x Rp70.000 = Rp1.470.000
  • Buku Indonesia Mengajar                                             21 orang x Rp54.000 = Rp1.134.000

 Peserta siswa berjumlah

  • Konsumsi siswa SMK                                                     40 siswa x 4 hari x 2 x Rp5.0000 = Rp1.600.000
  • Soal try out UN SD                                                         37 anak x Rp10.000 = Rp370.000
  • Soal try out UN SMP                                                      21 anak x Rp10.000 = Rp210.000
  • Buku Membongkar Rahasia Soal UN                           58 siswa x Rp50.000 = Rp2.900.000

Total pengeluaran: Rp11.557.500 (sebelas juta lima ratus lima puluh ribu lima ratus rupiah)

Biaya Masuk

Konsumsi peserta                                                                            Rp840.000 + Rp1.600.000 = Rp2.440.000

Buku Indonesia Mengajar dari Pak Ali Abdullah                        Rp1.134.000

Total pemasukan: Rp3.574.000 (tiga juta lima ratus tujuh puluh empat ribu)

Anggaran Diperlukan

Rp11.557.500 – Rp3.574.000 = Rp7.983.500

(tujuh juta sembilan ratus delapanpuluh tiga ribu lima ratus)

Penutup

KegiatanSekolah Guru Pemberdaya Masyarakatdilakukan dalam beberapa tahap. Tahap kedua yang akan dilakukan akhir bulan Januari 2012 sudah memulai dengan gerakan sekolah untuk masyarakat. Sementara minggu pertama awal Januari 2012 workshop “Menulis Deskriftif-Naratifbertujuan memfasilitasi ekspresi geliat pendidikan di daerah dampingan dapat dibaca dan mempengaruhi masyarakat lebih luas. Berbagai kegiatan pada tahap ketiga bertujuan untuk menguatkan sekolah sebagai sekolah yang diandalkan untuk masa depan melalui kegiatan magang, penyiapan dan pemberian beasiswa untuk belajar di sekolah-sekolah yang memiliki keunggulan yang dibutuhkan sekolah-sekolah dampingan.

Walagri Aksara baru pertama kali memiliki kegiatan yang dilakukan dengan tahapan demikian. Semoga ini menjadi pengalaman yang menguatkan Walagri Aksara dan masyarakat yang didampingi.

Cimahi, 1 Desember 2011

Ketua Walagri Aksara

MH. Aripin Ali

Posted in Program Kegiatan | Tagged , , | Leave a comment