Asyik juga perlahan-lahan memahami Edward de Bono. Sambil mengingatnya saya akan mengutip hal-hal yang menarik. Semoga terbersit ide saat menuliskannya.
…
…
Asyik juga perlahan-lahan memahami Edward de Bono. Sambil mengingatnya saya akan mengutip hal-hal yang menarik. Semoga terbersit ide saat menuliskannya.
…
…
Saat nama-nama berikut dikirimkan kepada saya, senyum merekah mengantar ingatan pada tahun 2004 kemudian menyelusuri perjalanan ke tahun ini. Siti, Roni, Rismawati, Ajid, Muslihin, Jujun, Eka, Ilyas, Dadan. Mereka angkatan ke 1 dan ke 2 SMP Darul Hikmah. Mereka kini guru SMP Darul Hikmah.
Mereka bukan guru sembarangan. Perjalanan ibu Eka heroik. Guru ini sewaktu SMP kelas 3 sudah menikah. Saya masih merasakan gelegak kegembiraan saat warga di Cieceng meminta saya untuk turut mengelola PAUD. PAUD identik dengan keterlibatan ibu-ibu dalam isu pendidikan. Lengkap sudah (setelah sebelumnya para bapak dan beberapa pemuda di SMP). Sejak itu pendidikan merangkak menjadi sepenuhnya isu masyarakat. Dan, saya terkejut, ibu Eka yang bertanggung jawab menjalankannya.
Ibu Eka tidak ada di foto ini. Teman-temannya ada. Mereka sedang mengikuti pelatihan yang dilakukan Walgri Aksara di Cipatujah, kabupaten Tasikmalaya. Bukan cuma pelatihan, namun para pemuda ini yang siap mendampingi sekolah Puncak Jaya, Ciheras-Cipatujah, dalam statusnya sebagai sekolah yang dipayungi sekolah Darul Hikmah.
Sekolah Payung adalah sebuah sekolah yang meberikan dukungan legalitas terhadap sekolah yang tidak memiliki legalitas. SD-SMP Puncak Jaya belum mungkin menyelenggarakan pendidikan formal-legal: tidak ada guru lulusan S1, tidak ada bangunan, siswanya sangat sedikit. Maka semua legalitas sekolah ini merujuk ke sekolah Darul Hikmah. Mereka belajar di tempat yang berjarak lebih dari 100 KM dari sekolah yang di mana mereka tercatat sebagai siswa. Anak-anak kelas 6 Puncak Jaya, saat Ujian Negara (UN), akan bergabung dengan anak-anak kelas 6 SD Darul Hikmah. Sekolah Payung adalah impian saya. Anak Muda itu yang mewujudkannya dalam riang gembira. Huh! Bangganya.
Hampir 4 tahun dari keberadaan kami, kami tidak bernama. Hanya saja 4 tahun tersebut identik dengan guru-guru SD Hikmah Teladan. Setiap libur sekolah kami masuk ke pelosok berbagi dengan masyarakat.
Daerah pertama yang dikunjungi teman-teman adalah Pasawahan, kecamatan Banjarsari, kabupaten Ciamis. Kami bersama masyarakat dan Serikat Petani Pasundan menyiapkan pendirian SMP Plus Pasawahan. Kegiatan kami dilakukan di madrasah ibtidaiyah karena memang belum ada bangunan untuk peruntukan SMP. Selanjutnya, proses belajar dilangsungkan di ruang belakang samping dapur salah satu tokoh masyarakat.
Saya tidak tahu apa persisnya plus dari SMP Plus Pasawahan. Bahwa itu sekolah yang didirikan masyarakat, gratis, guru-gurunya orang-orang gerakan, siswanya semua anak tani, sudah pasti bisa jadi plusnya.
Awal petualangan ini secara keseluruhan berkesan. Colt Bak yang mengangkut kami terjungkir sehingga membuat ibu-ibu memilih berjalan berkilo-kilo. Di antara yang memilih berjalan itu istri saya dan kedua anak kami.
Saya, sekalipun salah kaprah, sangat pede menyampaikan materi tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi yang memang baru saya pelajari dengan baik dari teman di Pusat Kurikulum.
Beberapa nama yang bergabung dalam rombongan yang masih saya ingat: 1. Lia Nur Amalia yang sampai saat ini masih aktif sekalipun sudah sangat jarang; 2. Eva Sopia. Sudah tidak aktif di Walagri Aksara sejak dipersunting aktivis Serikat Petani Pasundan yang biasa menemani kami sebelum berganti dengan koordinator yang sekarang; 3. Asep yang sekalipun sudah menjadi PNS di SMKN Cimahi masih aktif sampai berdirinya LSM Walagri Aksara; 4) Wah yang lainnya lupa. Jadi saya tambahkan saja istri dan kedua anak saya.
Saat ini boleh dikata hanya Lia Nur Amalia yang masih bertahan dari rombongan yang pertama-tama ke Pasawahan. Kalau teman-teman Serikat Petani Pasundan yang memanfaatkan pikiran dan tenaga kami saat itu masih banyak yang aktif sampai saat ini. Ada pak Boy sebagai senior. Beliau suhu dan tentu saja dituakan. Di foto yang baru diambil pak Boy bersama salah satu murid angkatan awal yang kini menjadi guru di SMP Plus Pasawan (memakai baju kuning). Yang lainnya ada Linda, Saeful (kepala sekolah SMK Pertanian Pasawahan), Beno (kepala sekolah SMP Plus Pasawahan) dan pak Ahmad (yang merupakan warga setempat).
Yang datang atau pergi semua berjasa. SMP Plus Pasawahan sudah meluluskan dan langsung ditampung di SMK Pertanian Pasawahan. Kami pun masih berhubungan dengan baik sampai saat ini.
Berikut ini nama-nama peserta pelatihan “Sekolah Guru Pemberdaya Masyarakat” dari Cieceng: Egi, Siti, Imat, Roni, Rismawati, Ajid, Muslihin, Jujun, Eka, Ilyas, Dadan, Ade I’ah.
Egi dan Ade I’ah merupakan 2 guru muda lulusan SMA yang mengajar SD Darul Hikmah pada saat kami melakukan pelatihan guru untuk pertama kali di Cieceng, Cikatomas, kabupaten Tasikmalaya pada tahun 2004. Pak Egi pernah menghilang sekitar 4 tahun dari murid-murid yang menghormatinya untuk bekerja di kota. Kebutuhan keluarga menuntutnya demikian. Idealisme bagi guru-guru yang tidak bergaji memang akan terus berbenturan dengan permasalahan ekonomi. Sudah hampir 2 tahun belakangan, setiap kunjungan ke Sekolah Darul Hikmah, saya senang selalu mendengar kembali suara kritisnya. Kami kembali mengandalkannya.
Ade I’ah dikenali oleh kami karena hidangan sambal ‘goang’nya. Ketika itu, 2 anak saya dan guru-guru bermain ke air terjun. Jarak dari sekolah sangat jauh, tapi dekat kalau dari rumah bu Ade. Beliau tinggal di dusun yang diberi nama air terjun itu: Curug Dendeng. Entah bagaimana asal-usulnya, pokoknya kolam bu Ade hari itu ‘dibedahkeun’ dan yang pulang dari curug langsung dipersilahkan menyantap gorang ikan yang segar. Sambal ‘goang’ itulah, dengan alasan enaknya, membuat kami tidak ingat malu saat makan sulit dihentikan. Berbeda dengan pak Egi, “4 tahun” dimanfaatkan bu Ade mengikuti kuliah di Universitas Terbuka. Pak Egi pulang membawa harapan yang tidak bisa dipenuhinya, bu Ade pulang membawa gelar. Bu Ade membuat sejarah bagi Darul Hikmah: guru lulusan universitas.
|
[pROPOSAL “SEKOLAH GURU PEMBERDAYAAN MASYARAKAT”] |
Pendahuluan
Guru-guru di daerah konflik yang menjadi dampingan Walagri Aksara secara keseluruhan adalah petani, aktif dalam Organisasi Tani Lokal dan sebagian dari mereka merupakan tokoh masyarakat.Realita ini menyebabkan perubahan yang terjadi pada guru mendorong perubahan di masyarakat.Walagri Aksara akhirnya tidak dapat mengelak terlibat dengan perkara masyarakat.
Dapat disebut ini periode kedua dalam kerjasama antara Walagri Aksara dengan daerah dampingan. Kami dengan jelas menapaki tantangan untuk membawa sekolah yang kuat menjadi sekolah yang merubah masyarakat.
Tujuan
1.Mengukuhkan sekolah sebagai tempat berkumpulnya orang-orang yang memiliki kemampuan berpikir yang baik.
2.Menfasiltasi sekolah menjadi pusat penelitian bagi lingkungan sosialnya.
3.Mengukuhkan sekolah sebagai pemandu perubahan masyarakat.
Kegiatan Tahap I
Sekolah yang baik akan mendorong kesenangan pada berpikir. Guru-guru, kemudian anak-anak, sepantasnya mandiri dalam berkegiatan dengan pikir. Namun kenyataannya sekolah hanya menumpuk informasi minus kecerdasan mengelolanya. Berbeda dengan kemandirian ekonomi dan politik, kemandirian berpikir tidak dipersiapkan. Kegiatan tahap I diharapkan menjadi ‘jalan’ untuk memulainya.
Saat bersamaan dengan kegiatan untuk guru tersebut, siswa kelas 6 dan kelas 9 mengikuti berbagai sesi pelatihan terkait berbagai metode belajar, uji coba Ujian Negara dan pembahasannya. Siswa SMK Pertanian mengikuti pelatihan tentang pembenihan dan penyakit tanaman dengan penekanan pada pembentukan model budaya penelitian di lingkungan SMK, sekaligus mencanangkan program menjadikan SMK sebagai penyedia benih bagi masyarakat.
Kegiatan dengan masyarakat adalah pengajian umum di beberapa dusun, menonton filem pendidikan (semacam layar tancap), dan pelatihan guru—guru PAUD yang biasanya dilakukan di antara ibu-ibu dari anak-anak peserta PAUD.
Waktu dan Tempat
17-21 Desember 2011 di SD, SMP, SMK Darul Hikmah, Cieceng, kecamatan Cikatomas, kabupaten Tasikmalaya dan daerah-daerah sekitar.
Peserta
Peserta pelatihan untuk guru:
Peserta pelatihan dari siswa adalah anak-anak kelas 6 SD Darul Hikmah dan SD Puncak Jaya, kelas 9 SMP Pasawahan dan SMP Darul Hikmah, siswa SMK Pertanian Darul Hikmah dan SMK Pertanian Cigalontang.
Tim Instruktur
|
Nama |
Lembaga/Profesi |
|
MH. Aripin Ali Usep Saeful Husna Munajat, SP. Rian Angkasa Pinem Diar Ginanjar Andiraharja Erik Hillaludin, SAg. Herni Juharno S.Pd. Yayan Khaerul Anwar, M.HI Yukie Septiani S.Pd |
LSM Walagri Aksara Ketua Unit Pendidikan SPP Praktisi pertanian dan tanaman obat Kepsek SD, SMP, SMA Semesta Hati Guru SD, SMP, SMA Semesta Hati Guru SD Hikmah Teladan Guru SD Hikmah Teladan Dosen UIN Sunan Gunung Djati Guru SD Hikmah Teladan |
Susunan Kepanitian
Penasihat : 1. Ali Abdullah
2. M. Endar Suhendar
Ketua : MH. Aripin Ali
Wakil Ketua : Usep Saeful Husna
Koordinator Materi Akademis : Diar Ginanjar Andi Raharja, S.Pd
Koordinator Materi Keagamaan: Anwar Sanusi
Koordinator Materi Pertanian : Munjat, S.P
Koordinator Lapangan : Eris
Bendahara : Lia Nur Amalia S.S
Konsumsi : warga setempat
Sie. Peralatan dan Dokumentasi: Rian Angkasa Pinem
Anggaran
Biaya Pengeluaran
Jumlah Instruktur 10 orang
Peserta guru berjumlah 21 orang
Peserta siswa berjumlah
Total pengeluaran: Rp11.557.500 (sebelas juta lima ratus lima puluh ribu lima ratus rupiah)
Biaya Masuk
Konsumsi peserta Rp840.000 + Rp1.600.000 = Rp2.440.000
Buku Indonesia Mengajar dari Pak Ali Abdullah Rp1.134.000
Total pemasukan: Rp3.574.000 (tiga juta lima ratus tujuh puluh empat ribu)
Anggaran Diperlukan
Rp11.557.500 – Rp3.574.000 = Rp7.983.500
(tujuh juta sembilan ratus delapanpuluh tiga ribu lima ratus)
Penutup
Kegiatan “Sekolah Guru Pemberdaya Masyarakat” dilakukan dalam beberapa tahap. Tahap kedua yang akan dilakukan akhir bulan Januari 2012 sudah memulai dengan gerakan sekolah untuk masyarakat. Sementara minggu pertama awal Januari 2012 workshop “Menulis Deskriftif-Naratif” bertujuan memfasilitasi ekspresi geliat pendidikan di daerah dampingan dapat dibaca dan mempengaruhi masyarakat lebih luas. Berbagai kegiatan pada tahap ketiga bertujuan untuk menguatkan sekolah sebagai sekolah yang diandalkan untuk masa depan melalui kegiatan magang, penyiapan dan pemberian beasiswa untuk belajar di sekolah-sekolah yang memiliki keunggulan yang dibutuhkan sekolah-sekolah dampingan.
Walagri Aksara baru pertama kali memiliki kegiatan yang dilakukan dengan tahapan demikian. Semoga ini menjadi pengalaman yang menguatkan Walagri Aksara dan masyarakat yang didampingi.
Cimahi, 1 Desember 2011
Ketua Walagri Aksara
MH. Aripin Ali