Berikut ini nama-nama peserta pelatihan “Sekolah Guru Pemberdaya Masyarakat” dari Cieceng: Egi, Siti, Imat, Roni, Rismawati, Ajid, Muslihin, Jujun, Eka, Ilyas, Dadan, Ade I’ah.
Egi dan Ade I’ah merupakan 2 guru muda lulusan SMA yang mengajar SD Darul Hikmah pada saat kami melakukan pelatihan guru untuk pertama kali di Cieceng, Cikatomas, kabupaten Tasikmalaya pada tahun 2004. Pak Egi pernah menghilang sekitar 4 tahun dari murid-murid yang menghormatinya untuk bekerja di kota. Kebutuhan keluarga menuntutnya demikian. Idealisme bagi guru-guru yang tidak bergaji memang akan terus berbenturan dengan permasalahan ekonomi. Sudah hampir 2 tahun belakangan, setiap kunjungan ke Sekolah Darul Hikmah, saya senang selalu mendengar kembali suara kritisnya. Kami kembali mengandalkannya.
Ade I’ah dikenali oleh kami karena hidangan sambal ‘goang’nya. Ketika itu, 2 anak saya dan guru-guru bermain ke air terjun. Jarak dari sekolah sangat jauh, tapi dekat kalau dari rumah bu Ade. Beliau tinggal di dusun yang diberi nama air terjun itu: Curug Dendeng. Entah bagaimana asal-usulnya, pokoknya kolam bu Ade hari itu ‘dibedahkeun’ dan yang pulang dari curug langsung dipersilahkan menyantap gorang ikan yang segar. Sambal ‘goang’ itulah, dengan alasan enaknya, membuat kami tidak ingat malu saat makan sulit dihentikan. Berbeda dengan pak Egi, “4 tahun” dimanfaatkan bu Ade mengikuti kuliah di Universitas Terbuka. Pak Egi pulang membawa harapan yang tidak bisa dipenuhinya, bu Ade pulang membawa gelar. Bu Ade membuat sejarah bagi Darul Hikmah: guru lulusan universitas.