|
[pROPOSAL “SEKOLAH GURU PEMBERDAYAAN MASYARAKAT”] |
Pendahuluan
Guru-guru di daerah konflik yang menjadi dampingan Walagri Aksara secara keseluruhan adalah petani, aktif dalam Organisasi Tani Lokal dan sebagian dari mereka merupakan tokoh masyarakat.Realita ini menyebabkan perubahan yang terjadi pada guru mendorong perubahan di masyarakat.Walagri Aksara akhirnya tidak dapat mengelak terlibat dengan perkara masyarakat.
Dapat disebut ini periode kedua dalam kerjasama antara Walagri Aksara dengan daerah dampingan. Kami dengan jelas menapaki tantangan untuk membawa sekolah yang kuat menjadi sekolah yang merubah masyarakat.
Tujuan
1.Mengukuhkan sekolah sebagai tempat berkumpulnya orang-orang yang memiliki kemampuan berpikir yang baik.
2.Menfasiltasi sekolah menjadi pusat penelitian bagi lingkungan sosialnya.
3.Mengukuhkan sekolah sebagai pemandu perubahan masyarakat.
Kegiatan Tahap I
Sekolah yang baik akan mendorong kesenangan pada berpikir. Guru-guru, kemudian anak-anak, sepantasnya mandiri dalam berkegiatan dengan pikir. Namun kenyataannya sekolah hanya menumpuk informasi minus kecerdasan mengelolanya. Berbeda dengan kemandirian ekonomi dan politik, kemandirian berpikir tidak dipersiapkan. Kegiatan tahap I diharapkan menjadi ‘jalan’ untuk memulainya.
- Guru Bisa Berpikir. Pelatihan awal ini dimulai dengan “belajar berpikir” melalui kajian terhadap “Edward de Bono”.
- Guru yang Berpikir. Dengan menggunakan buku John Holt “Mengapa Siswa Gagal” para guru dikenalkan pada sosok guru yang secara spesial dan mendalam menghayati peran dan anak didiknya. Guru-guru dapat berjumpa pengalaman yang mengejutkan tentang bagaimana menggeluti profesi guru.
- Guru-Pemikir. Guru Pemikir adalah guru-guru yang menerjang masalah, membuka tantangan, dan bertindak menyisir penyelesaian. Buku “Indonesia Mengajar” akan dibedah untuk mengungkap betapa idealisme plus kompetensi (sebagai pribadi) menawarkan warna-warni kesuksesan dalam perjalanan bersama melakukan perubahan.
Saat bersamaan dengan kegiatan untuk guru tersebut, siswa kelas 6 dan kelas 9 mengikuti berbagai sesi pelatihan terkait berbagai metode belajar, uji coba Ujian Negara dan pembahasannya. Siswa SMK Pertanian mengikuti pelatihan tentang pembenihan dan penyakit tanaman dengan penekanan pada pembentukan model budaya penelitian di lingkungan SMK, sekaligus mencanangkan program menjadikan SMK sebagai penyedia benih bagi masyarakat.
Kegiatan dengan masyarakat adalah pengajian umum di beberapa dusun, menonton filem pendidikan (semacam layar tancap), dan pelatihan guru—guru PAUD yang biasanya dilakukan di antara ibu-ibu dari anak-anak peserta PAUD.
Waktu dan Tempat
17-21 Desember 2011 di SD, SMP, SMK Darul Hikmah, Cieceng, kecamatan Cikatomas, kabupaten Tasikmalaya dan daerah-daerah sekitar.
Peserta
Peserta pelatihan untuk guru:
- SD, SMP dan SMK Darul Hikmah, Cikatomas, kabupaten Tasikmalaya: Egi, Siti, Imat, Roni, Rismawati, Ajid, Muslihin, Jujun, Eka, Ilyas, Dadan, Ade I’ah
- SD, SMP Puncak Jaya, Cipatujah, kabupaten Tasikmalaya: Harun, Sari, Udeng
- SMK Pertanian Cigalontang, kabupaten Tasikmalaya: Agus, Nuasiah, Yani, Retno, Cepi, Euis
- SMP dan SMK Pertanian, Pasawahan, kabupaten Ciamis: Saeful, Romdon
Peserta pelatihan dari siswa adalah anak-anak kelas 6 SD Darul Hikmah dan SD Puncak Jaya, kelas 9 SMP Pasawahan dan SMP Darul Hikmah, siswa SMK Pertanian Darul Hikmah dan SMK Pertanian Cigalontang.
Tim Instruktur
|
Nama |
Lembaga/Profesi |
|
MH. Aripin Ali Usep Saeful Husna Munajat, SP. Rian Angkasa Pinem Diar Ginanjar Andiraharja Erik Hillaludin, SAg. Herni Juharno S.Pd. Yayan Khaerul Anwar, M.HI Yukie Septiani S.Pd |
LSM Walagri Aksara Ketua Unit Pendidikan SPP Praktisi pertanian dan tanaman obat Kepsek SD, SMP, SMA Semesta Hati Guru SD, SMP, SMA Semesta Hati Guru SD Hikmah Teladan Guru SD Hikmah Teladan Dosen UIN Sunan Gunung Djati Guru SD Hikmah Teladan |
Susunan Kepanitian
Penasihat : 1. Ali Abdullah
2. M. Endar Suhendar
Ketua : MH. Aripin Ali
Wakil Ketua : Usep Saeful Husna
Koordinator Materi Akademis : Diar Ginanjar Andi Raharja, S.Pd
Koordinator Materi Keagamaan: Anwar Sanusi
Koordinator Materi Pertanian : Munjat, S.P
Koordinator Lapangan : Eris
Bendahara : Lia Nur Amalia S.S
Konsumsi : warga setempat
Sie. Peralatan dan Dokumentasi: Rian Angkasa Pinem
Anggaran
Biaya Pengeluaran
Jumlah Instruktur 10 orang
- Transportasi dari Cimahi-Tasikmalaya 10 orang x Rp40.000 = Rp400.000
- Transportasi dari kota Tasikmalaya – Cieceng 10 orang x Rp30.000 = Rp300.000
- Konsumsi perjalanan 10 orang x 4 x Rp15.000 = Rp600.000
- Konsumsi di lokasi 10 orang x 4 hari x 2 x Rp5.000 = Rp400.000
Peserta guru berjumlah 21 orang
- Konsumsi 21 orang x 4 hari x 2 x Rp5.000 = Rp840.000
- Buku Revolusi Berpikir 21 orang x Rp63.500 = Rp1.333.500
- Buku Mengapa Siswa Gagal 21 orang x Rp70.000 = Rp1.470.000
- Buku Indonesia Mengajar 21 orang x Rp54.000 = Rp1.134.000
Peserta siswa berjumlah
- Konsumsi siswa SMK 40 siswa x 4 hari x 2 x Rp5.0000 = Rp1.600.000
- Soal try out UN SD 37 anak x Rp10.000 = Rp370.000
- Soal try out UN SMP 21 anak x Rp10.000 = Rp210.000
- Buku Membongkar Rahasia Soal UN 58 siswa x Rp50.000 = Rp2.900.000
Total pengeluaran: Rp11.557.500 (sebelas juta lima ratus lima puluh ribu lima ratus rupiah)
Biaya Masuk
Konsumsi peserta Rp840.000 + Rp1.600.000 = Rp2.440.000
Buku Indonesia Mengajar dari Pak Ali Abdullah Rp1.134.000
Total pemasukan: Rp3.574.000 (tiga juta lima ratus tujuh puluh empat ribu)
Anggaran Diperlukan
Rp11.557.500 – Rp3.574.000 = Rp7.983.500
(tujuh juta sembilan ratus delapanpuluh tiga ribu lima ratus)
Penutup
Kegiatan “Sekolah Guru Pemberdaya Masyarakat” dilakukan dalam beberapa tahap. Tahap kedua yang akan dilakukan akhir bulan Januari 2012 sudah memulai dengan gerakan sekolah untuk masyarakat. Sementara minggu pertama awal Januari 2012 workshop “Menulis Deskriftif-Naratif” bertujuan memfasilitasi ekspresi geliat pendidikan di daerah dampingan dapat dibaca dan mempengaruhi masyarakat lebih luas. Berbagai kegiatan pada tahap ketiga bertujuan untuk menguatkan sekolah sebagai sekolah yang diandalkan untuk masa depan melalui kegiatan magang, penyiapan dan pemberian beasiswa untuk belajar di sekolah-sekolah yang memiliki keunggulan yang dibutuhkan sekolah-sekolah dampingan.
Walagri Aksara baru pertama kali memiliki kegiatan yang dilakukan dengan tahapan demikian. Semoga ini menjadi pengalaman yang menguatkan Walagri Aksara dan masyarakat yang didampingi.
Cimahi, 1 Desember 2011
Ketua Walagri Aksara
MH. Aripin Ali